NEGARA KELIMA



Penulis : E.S. ITO

Penerbit : Serambi
Harga : Rp. 52.900,-


Saya sudah pernah mengulas buku ini pada tulisan saya sebelumnya (lihat disini..., oke saya sudah selesai baca, dan akan sedikit saya ceritakan isi dari buku yang sangat menarik tersebut...


Novel karangan Es Ito ini mungkin satu-satunya novel yang mengangkat cerita mengenai Indonesia dan hubungan dengan legenda Atlantis. Lepas dari percaya atau tidak bahwa Indonesia adalah tempat dimana dahulu benua Atlantis tenggelam, novel ini cukup menarik untuk dibaca meskipun di beberapa bagian terlihat terlalu dipaksakan.

SEBUAH PEMBUNUHAN BERANTAI
SEBUAH KONPIRASI GILA TERBENTANG
SEBUAH PERTANYAAN BENUA ATLANTIS TERJAWAB

Kalau Anda membaca novel ini, maka Anda akan sepakat bahwa gaya penulisan novel ini benar-benar mirip dengan gaya penulisan Dan Brown. Bab yang pendek-pendek dan cerita yang dipenggal-penggal antar bab yang membuat pembaca penasaran. Didalamnya, Anda bisa membaca sejarah Indonesia yang mungkin belum pernah Anda dengar, khususnya sejarah suku bangsa Minang yang ternyata bukan keturunan Yunan, bangsa yang diyakini merupakan nenek moyang bangsa Indonesia. Tentu saja sebuah sejarah yang bisa menjadi perdebatan dan perlu diteliti kembali kebenarannya oleh para sejarawan.

Dan mirip novel-novel thriller Amerika yang selalu mengurusi hal-hal spektakuler nan luar biasa, Negara Kelima juga menghadirkan persoalan yang hipersupermegagigantis (???) menggetarkan, yaitu kisah masa lalu negara kita dikaitkan dengan benua hilang Atlantis!
Awalnya adalah pembunuhan berantai terhadap tiga orang gadis remaja yang diduga dilakukan oleh sebuah kelompok revolusioner radikal bernama KePaRad (akronim dari Kelompok Patriotik Radikal). Mereka menjadi tersangka karena di mayat ketiga korban ditemukan tanda goresan yang berbentuk piramid, simbol khas mereka.
Setelah melalui serangkaian tarik ulur mengenai siapa yang berhak menangani kasus itu antara Satuan Reserse Umum dengan Detasemen Khusus Antiteror Polda Metro, yang jadi buronan justru Inspektur Dua Timur Mangkuto. Dia adalah perwira seksi data dan informasi pada Detsus Antiteror yang berselisih paham dengan komandannya, Kombespol Riantono.

Timur lalu terpaksa melarikan diri setelah sahabatnya, Iptu Rudi Djatmiko, turut terbunuh pula. Dalam pelariannya, ia kemudian bertemu dengan Eva Rahmasari Duani, seorang sejarahwan cantik yang mendalami sejarah Atlantis. Bersama Eva, Timur lalu menyingkap teka-teki negara kelima versi KePaRad dan sekaligus menemukan satu demi satu puzzle sejarah yang menghubungkan Atlantis dan Indonesia berdasar buku Timaeus and Critius karangan Plato.

Pada akhirnya, mereka harus berpacu dengan waktu untuk menemukan siapa pembunuh sesungguhnya ketiga gadis itu. Keduanya juga harus menghentikan rencana KePaRad untuk melakukan revolusi dan mendirikan negara baru untuk menggantikan RI yang mereka anggap telah busuk.

Pujian khusus harus diberikan pada Ito untuk tema besar yang disuguhkannya. Dari segala segi, Negara Kelima adalah prestasi monumental di tengah sejarah novel (baik sastra avant garde maupun literatur pop) Indonesia yang tak pernah bosan menghadirkan tema cintaaaaaaaaaa terus-terusan sejak era Marah Roesli hingga Djenar Maesa Ayu.

Menemukan bahwa Atlantis yang hilang tak lain adalah bentuk purba Nusantara kuno pada akhir era zaman es adalah sesuatu yang menghebohkan buat kita bangsa Indonesia yang “hobi” merasa rendah diri ini. Dan terlebih lagi, penemuan-penemuan terkini di bidang arkeologi, sejarah, dan geologi memang mulai mendukung teori itu, yakni bahwa benua Atlantis adalah yang kini menjadi kepulauan Indonesia.

Terlebih kita juga lantas disuguhi paparan fakta yang menyebut hubungan antara Plato, Aristoteles, Alexander Agung, putri Hindustan, dan asal-usul masyarakat Minangkabau. Ito juga dengan berani, bersandar pada aneka macam bentuk hukum adat Minang, memaparkan bahwa hukum tradisi Sumatera Barat itu merupakan “fotokopi” asas welfare state yang telah membuat Atlantis menjadi suatu peradaban maju sebelum akhirnya hancur oleh letusan Gunung Krakatau purba!

Sayang semua itu jadi kehilangan makna karena Ito belum memiliki skill bercerita dan memainkan kata, kalimat, serta plot yang setinggi Dan Brown atau Tom Clancy. Bahkan dibanding para pengarang pemula “genre” chicklit atau metropop pun ia masih sedikit tertinggal.

Akibatnya, semua fakta spektakuler itu pun lewat satu demi satu tanpa menimbulkan ledakan sedikitpun. Padahal semua yang ia tuang adalah hal-hal yang amat baru bagi kita sekalian rakyat negeri cinta-cintaan ini. Skill-nya bercerita yang masih belum solid membuat kita heran sendiri karena nggak terkejut saat membaca bagian tempat Ito mengungkap bahwa masyarakat Minang sebenarnya adalah (SPOILER ALERT!!) keturunan langsung dari Alexander Agung yang melakukan serangkaian penaklukan untuk menuju Atlantis!

Ia juga terjebak dalam semangat The Da Vinci Code soal pemecahan teka-teki namun dengan sasaran yang salah. Timur Mangkuto dan Eva Duani membongkar satu demi satu teka-teki milik KePaRad, yang ternyata hanya menyembunyikan nama-nama lima negara versi KePaRad, yaitu Atlantis, Sriwijaya, Majapahit, PDRI 1948, dan negara Atlantis baru yang akan mereka dirikan.

Informasi itu sama sekali nggak penting karena nggak sedikitpun membantu polisi dalam memburu dan menaklukkan KePaRad. Sementara ada tiga hal lain yang lebih krusial dan seharusnya dilindungi dengan aneka macam teka-teki agar tidak bocor ke pihak luar, terutama polisi dan pemerintah RI yang akan direvolusi, yaitu apa itu dan di mana itu Pilar Orichalcum; apa itu dan di mana itu lempeng emas Tataghata; serta kapan, di mana, dan dengan cara apa KePaRad akan mendeklarasikan negara mereka.
Dan menggunakan nama KePaRad (dengan P dan R besar di tengah kalimat sebagaimana gaya bentukan kalimat slank ala Amrik) sungguh amat mengundang tanda tanya. Kelompok-kelompok separatis-revolusioner-radikal di berbagai negara cenderung menggunakan singkatan, dan bukan akronim, agar lebih mudah diingat, contohnya IRA, LTTE, MNLF, GAM, OPM, ETA, NII, DI/TII, atau RUF.

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat novel ini terasa kurang enak dibaca, seperti penulisan labtop yang seharusnya laptop. Lalu beberapa kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia seperti merubah yang seharusnya mengubah. Disamping itu, entah kenapa penulis lebih suka menyebutkan tokoh-tokohnya dengan nama yang lengkap, hal ini membuat novel menjadi berkesan resmi dan kurang enak dibaca.

Namun di luar semua itu, ES Ito dan penerbit Serambi tetap harus mendapatkan standing ovation tersendiri untuk Negara Kelima. Buku ini mendobrak kebekuan kreativitas semua lini seniman negeri kita yang sudah telanjur memuja dan mendewakan cinta-cintaan sebagai satu-satunya tema yang paling “berhak” untuk dituang dalam kesenian.
Negara Kelima (dan juga 5cm-nya Donny Dhirgantoro, btw belum saya ulas ya...) membuatku merasa bangga menjadi orang Indonesia, tidak seperti salah satu serial karangan “sastrawan wangi” kita yang malah lebih sibuk membanding-bandingkan semua kekurangan Indonesia dengan semua kelebihan bangsa Amerika Serikat tersayang hanya karena pengarangnya pernah lama kuliah di Yu-Es!

No comments: