Winter Dreams - Perjalanan Semusim Ilusi



Judul : Winter Dreams - Perjalanan Semusim Ilusi
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2011
Tebal : 287 hlm




Bagi sebagian penduduk dunia, Amerika adalah negeri impian untuk mencapai kesuksesan, ada banyak caranya, mulai dari yang menempuh pendidikan lanjutan lalu meniti karier disana atau hanya dengan modal pendidikan dan uang seadanya nekad mengadu nasib dan menjadi bagian dari 12 juta masyarakat intenasional yang memilih menjadi imigran gelap di Amerika dengan segala resikonya demi sebuah mimpi.
Beda halnya dengan Nicky F. Rompa pemuda Indonesia berusia 20-an tahun. Berawal dari perceraian kedua orang tuanya ia lari dari kenyataan pahit yang dialaminya dengan mencoba mengadu nasib sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Kehidupan Nicky di negeri asing Inilah yang menjadi inti kisah dari novel Winter Dreams karya Maggie Tiojakin yang sebagian besar kisahnya mengambil setting di Boston, Mass. Amerika Serikat.
Dikisahkan Paska perceraian kedua orang tuanya Nicky tinggal di Jakarta bersama ayahnya, sedangkan adik perempuannya tinggal bersama ibunya di tempat lain. Ayah Nicky adalah seorang pemarah yang ringan tangan.
Lambat laun Nicky tak tahan dengan perlakuan ayahnya yang kasar dan suka memukuli dirinya hingga babak belur, akhirnya ketika ibunya menawarkan agar Nikcy meninggalkan ayahnya dan pergi ke Amerika ia menerima tawaran itu. Nicky berangkat meninggalkan keluarga dan sahabatnya tanta tahu berapa lama dan apa yang harus ia kerjakan disana kelak.
Di sana awalnya Nicky tinggal bersama keluarga kerabat ibunya yang telah lama menetap disana. Sebuah peristiwa membuat ia harus meninggalkan mereka dan mencari tempat tinggal sendiri. Di Boston Nicky mencoba mengisi kehidupannya dengan berbagai pekerjaan mulai dari pegawai toko, supir limousine, ikut kursus menulis, hingga bekerja di sebuah koran lokal. Di novel setebal 287 halaman inilah pembaca diajak mengikuti perjalanan Nicky dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Dari satu pertemanan ke pertemanan lainnya.
Dari perjalanan hidupnya ini Nicky bertemu dengan orang-orang yang berasal dari berbagai kultur yang berbeda, mulai dari Mr. & Mrs. Wong, imigran asal Vietnam yang menjadi majikan Nicky saat ia bekerja supermaket. Polina, gadis Rusia dimana Nicky pernah tertarik padanya. Sepasang kekasih Dev Akhtar dari Pakistan dan Natalie Black, gadis Yahudi, yang keduanya tinggal seapartemen dengan Nicky , Artin Rucci, guru menulis Nicky, Esmeralda de Luca Garcia – Esme – kekasih Nicky yang berasal dari Meksiko. dll
Dari seluruh kisah yang dialami Nicky walau ada berbagai peristiwa dan konflik yang dialami Nicky dengan orang-orang yang ditemuinya namun tak ada konflik yang menonjol dalam novel ini, tak ada dramatisasi yang berlebihan dalam kehidupan Nicky. Apa yang dialami Nicky begitu alami dan mungkin pernah dialami oleh kita semua seperti jatuh cinta pada seorang gadis, tertarik pada kekasih sahabat, patah hati, mencoba berganti-ganti pekerjaan, pesta-pesta anak muda, melakukan perjalanan antar kota, dsb.
Karakter Nicky F Rompa sendiri bukanlah sebuah tokoh hero yang sempurna, namun disinilah justru karakter dan pengalaman hidup Nicky berpotensi mengundang simpati dari para pembacanya, ia mewakili tokoh pemuda yang galau, kesepian, dan bingung menentukan tujuan dan pilihan hidupnya hingga akhirnya pada satu titik dalam kehidupannya ia menyatakan bahwa kehidupan dirinya mengalir begitu saja seperti yang terungkap dalam sebuah dialog dengan salah seorang temannya.
Aku bisa tinggal di sini seperti sekarang dan tidak melakukan apa-apa, just going with the flow; atau aku bisa tinggal di sini dan melakukan sesuatu yang berarti bagiku. Atau aku bisa pulang dan berusaha untuk memecahkan teka-teki abadi: apa yang akan kulakukan dengan hidupku? Semua orang ingin menjadi seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan, entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi apa-apa.” (hal 231)
Nicky juga tidak digambarkan sebagai manusia suci, walau tak terseret dalam dunia narkoba seperti yang dialami oleh sepupunya namun ia menjalani kehidupan cintanya layaknya masyarakat urban di sebuah kota Metropolitan.
Status Nicky sebagai imigran gelap juga memberi warna tersendiri, melalui novel ini pembaca akan diajak melihat kendala-kendala seorang imigran gelap dalam memperoleh pekerjaan karena tidak semua orang mau mempekerjakan imigra gelap sebagai pegawainya. Peristiwa 11 September 2001 membuat pandangan masyarakat dan pemerintah AS terhadap para imigran gelap semakin sinis sehingga memunculkan istilah ‘ilegal allien’ bagi mereka, seakan meraka adalah mahluk asing yang harus diusir dari negeri Amerika.
Selain pembaca diajak menyelami kehidupan Nicky melalui novel ini pembaca juga akan diajak melihat kehidupan dan budaya multikultural masyarakat Amerika melalui tokoh-tokoh yang dijumpai Nicky di sana sehingga wajah amerika sebagai negara multikultural akan terdeskripsikan dengan baik.
Dari percakapan Nicky dengan tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan kehidupannya itu akan muncul dialog-dialog soal cinta, persahabatan, kepenulisan, dll yang tidak terkesan mendikte pembacanya melainkan memberi kebebasan pada pembacanya untuk menyimpulkan sendiri apa makna dari semua dialog itu.
Sepeti yang diungkap di atas, walau kisah kehidupan Nicky dalam novel ini nyaris tanpa konflik yang mencuat, namun ini bukanlah novel yang membosankan karena dengan kalimat-kalimat yang mengalir pembaca dibuat betah dan penasaran untuk menyimak perjalanan hidup Nicky hingga lembar terakhir novel ini. Selain itu karakter Nicky dan tokoh-tokoh lain yang digambarkan apa adanya membuat kisah dalam novel ini terasa dekat dengan keseharian dan realita yang kita hadapi
Dan yang membuat novel ini semakin menarik adalah bagaimana penulis mampu menghidupkan suasana kota Boston dengan begitu hidup. Pegalaman penulis yang pernah tinggal 6 tahun di Boston membuat ia mendeskripsikan makanan, jalanan, setting, dan perilaku masyarakat Boston terkisahkan dengan detail dan filmis sehingga pembaca seolah melihat secara langsung apa yang dilihat dan dilakukan oleh Nicky.
Selain itu karakter Nicky yang dihidupkan dalam novel ini juga seolah mewakili perasaan para remaja/pemuda kita yang umumnya mengalami kebingungan dalam hidupnya seperti yang diungkap penulisnya dalam live tweet –nya di #Twtiteriak beberapa waktu yang lalu.
Dalam live-tweetnya penulis mengungkapkan sebuah kenyataan yang dirasakan oleh para pemuda tentang tujuan hidup mereka. Walau umumnya para pemuda di usia 20-an mengatakan telah memiliki tujuan hidup namun kenyataannya mereka hanya memproyeksikan hal tersebut dalam lingkup sosial, di mana mereka selalu berusaha menunjukkan ‘ilusi hidup’ yang terarah sementara saat mereka sendiri, kebingungan yang sama seperti yang Nicky rasakan juga mencekam pikiran mereka. Inilah yang dinamakan quarter-life crisis yang dalam novel ini dialami oleh Nicky.
Dengan tuturan kalimat sederhana yang enak dibaca, kaya akan detail, karakter tokoh utama yang mengundang simpati pembacanya dan tokoh-tokoh lainnya yang penuh warna, serta tema yang universal, tak mengherankan kalau novel yang dikerjakan selama hampir 6 tahun ini sudah dilirik oleh 2 penerbit asing. Satu dari Amerika, dan satu lagi dari Australia.
Saat ini pengalih bahasaan dan beberapa penyesuaian untuk konsumsi pembaca luar sedang dikerjakan oleh penulisnya. Jika jadi diterbitkan maka satu lagi penulis Indonesia memasuki kancah literasi Internasional dan hal ini tentunya membanggakan sekaligus menjadi pemacu kreatifitas bagi penulis-penulis kita lainnya untuk go international.

Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura

 Judul : Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura
Penulis : Benny Rachmadi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : Desember 2011
Tebal : 90 hlm

 
Apa jadinya jika tiga orang manula jalan-jalan ke Singapura, padahal 2 dari ketiga kakek-kakek itu sama sekali belum pernah sekalipun ke luar negeri?. Tentunya ada banyak hal lucu yang akan terjadi apalagi kalau yang mengisahkannya adalah komikus terkenal Benny Rachmadi yang komik-komiknya selalu diburu oleh para penggemarnya. Dalam komik terbarunya ini seperti biasa Benny Rachmadi mengangkat peristiwa-peristiwa keseharian yang sederhana menjadi sebuah kisah yang lucu dan menghibur.

Kali ini tokohnya adalah tiga orang manula yang berusia 70-an tahun dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Ketiganya bersahabat dan sama-sama suka usil, iseng, dan nakal. Mereka adalah :


Mbah Waluyo (76 tahun), bertongkat, kumis lebat, agak lambat berpikir,dan menganut kejawen,




Engkong Sanip (72 thn) ), punya kontrakan, perut cembung, dagu melengkung, ngomong ceplas-ceplos dan suka usil/jahil.



Om Liem (68 thn) pengusaha musiman, sok tau, perut buncit, mata sipit, celana nanggung, dan lemak menggantung di pinggangnya.




Di komik ini dikisahkan Om Liem mentrakhir kedua sahabatnya untuk jalan-jalan ke Singapura! Suatu pengalaman baru bagi Kakek Sanip dan kakek Waluyo karena mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Bisa dibayangkan bagaimana kelucuan demi kelucuan terjadi, mulai dari dalam pesawat dimana kakek Waluyo yang pusing tiba-tiba mengeluarkan minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok karena bau minyak angin yang menyengat itu hingga saat berkemas untuk pulang dimana kakek Sanip yang berniat ingin membawa pulang bantal hotel.

Dari lembar pertama hingga lembar akhir kita akan disugihkan peristiwa demi peristiwa yang lucu dari dari perilaku ketiga manula itu, hal ini membuat pembacanya harus membacanya dalam kamar tertutup sebelum ditegur orang karena tertawa cekikikan sendiri. Ya di buku ini kita akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal melihat pengalaman ketiga manula ini, namun jangan salah sebenarnya kita bukan sedang menertawakan ketiga manula itu saja karena sebenarnya kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Mengapa?, karena tak jarang apa yang dilakukan oleh ketiga manula itu sebenarnya juga selalu kita lakukan.

Komik ini juga sebenarnya menertawakan perilaku manusia Indonesia yang dikenal gemar sekali berbelanja ke Singapura. Benny Rachmadi seperti biasa dengan menyentil kesana kesini, mulai dari kebiasaan khas orang kaya Indonesia ketika berbelanja hingga kelakuan politikus yang ‘kabur’ ke Singapura untuk mencari perlindungan dari jerat hukum.

Tidak hanya itu, melalui komik ini Benny Rachmadi juga menggambarkan kondisi sosial masyarkarat Singapura yang terdiri dari berbagai etnis yang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Ingris khas Singapura yang disebut Singlish (Singaporean English).

Dalam hal penggunaan gadget Benny Rachmadi juga mengungkap bagaimana di Indonesia orang-orang begitu bangga dengan Blackberry-nya dan ketika sampai disana harus merasa minder karena di Singapuraorang-orang sudah beralih ke ipad, tablet, dan iphone.

Soal kedisiplinan penduduk Singapura juga tercermin dalam komik ini, dengan lucu Benny Rachmadi menggambarkan bagaimana sulitnya Mbah Waluyo mencari tempat untuk merokok, ketika akhirnya ia menemukan tempat di sebuah khusus untuk area merokok dan mulai menyalakan rokoknya, semua perokok di tempat itu berhamburan karena Mbah Waluyo merokok dengan rokok 'klembak menjan' (rokok menyan).
Ada banyak hal menarik yang bisa kita dapat dari novel ini, selain kondisi sosial masyarakat Singapura, komik ini juga mengungkap tentang sistem transportasi, perilaku berlalu lintas, kebersihan, gambaran kawasan kota, dan sebagainya. Soal makanan juga tak luput dari pengamatan, mulai dari makanan khas berbagai etnis yang ada di sana hingga jajajan di pinggir jalan.

Dari semua yang terungkap dalam komik ini termasuk kelucuan-kelucuan ketiga manula yang dikisahkan dalam komik ini maka komik ini bukan sekedar menghibur melainkan bisa menjadi sebuah buku tentang Singapura termasuk panduan wisata ringan bagi mereka yang ingin pergi ke Singapura.

Oya, ternyata di dalam komik ini kita juga diberi poster Tiga Manula besar yang menarik dan lucu yang diambil dari satu panel gambar di buku ini.
Demikian review untuk komik Tiga Manula ini, saya tidak akan berpanjang-panjang, silahkan menikmati komik ini.Singkatnya selain menghibur dan membuat kita cekikikan sendiri kita akan mendapat banyak yang bermanfaat hal dari perjalanan ketiga Manula usil ini. Jika ingin tertawa sambil menambah wawasan kita, bacalah buku ini.

Pram’s Day: 6 Februari 2012


[Pram’s Day: 6 Februari 1925 - 6 Februari 2012]

Dalam rangka memperingati #PramsDay atau hari lahir Pram pada tanggal 6 Februari 1925 izinkan saya memposting ulang review salah satu karya Pramoedya yang terbit pada tahun 2005 yang lalu, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Review ini dalam versi yang lebih ringkas pernah dimuat di Ruang Baca Koran Tempo ed. Oktober 2005 dengan judul Jalan yang Dibangun di Atas Kematian


Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3


Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu : Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris.

Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Degan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Walau Jalan Raya Pos dikenal dan selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah namun bisa dikatkan tak ada buku yang secara khusus mengungkap sejarah pembuatan dan sisi-sisi kelam dibalik pembuatan Jalan Raya Pos. Buku terbaru karya Pramoedya Ananta Toer(Pram) ini bisa dikatakan dapat mengisi kekosongan literatur Jalan Raya Pos dalam khazanah buku-buku berlatar belakang sejarah dewasa ini. Walau buku ini bukan merupakan buku sejarah resmi, namun buku yang ditulis Pram dimasa tuanya ini (1995) dapat dijadikan sebuah buku yang mengungkap dan memberi kesaksian tentang peristiwa kemanusiaan yang mengerikan dibalik pembangunan Jalan Raya Pos.

Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram mengurai awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida, pembunuhan besar-besaran ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada jaman Jepang di Kalimantan, genocida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indoenesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru.

Di halaman-halaman selanjutnya setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang dilewati dan berada disepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti Batavia,Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang terdengar bagi masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bagil dan lain-lain.

Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada masa kini. Dengan sendirinya masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan akan terungkap di buku ini. Ketika Jalan Raya Pos sampai di kota Sumedang dimana pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya inilah untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh, 5000 orang!

Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyaknya kerja paksa yang kelelahan dan lapar itu menjadi makanan empuk malaria yang ganas (hal 94). Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang!. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

Selain mengungkap sisi-sisi kelam dibalik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada kota-kota disepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang dalam tugas ketentaraannya bertugas di daerah Cirebon, dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat disebuh tungku dapur yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum para laskar rakyat.(hal 79)..O la la….!

Buku ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku yang terbit dipertengahan abad ke 19 hingga akhir abad ke 20. Tak heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos.

Yang patut disayangan pada buku ini adalah tidak adanya peta yang secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyijikan reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam (hal 129). Peta yang tak mnggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels diselesaikan oleh Pramoedya pada tahun 1995, entah apa yang membuat buku ini harus menuggu 10 tahun untuk diterbitkan, tak ada penjelasan dari penerbit mengenai mengapa baru sekarang buku ini diterbitkan, padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi memungkinkan diterbitkannya karya-karya Pram secara bebas. Namun walau bisa ditakan terlambat diterbitkan, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca oleh siapa saja karena buku ini merupakan sebuah buku kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan dibalik pembangunan sebuah jalan sepanjang 1000 km yang dibangun beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia pribumi yang dipaksa untuk membangunnya.

Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek



Judul: Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek
Penyususn: Abhisan DM, Hasriadi ary, Miranda Harlan
Penerbit: Katakata
Halaman: 157 Halaman
Terbit: Desember, 2011

Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu.

Awalnya komoditi-komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.

Salah satu contoh yang disampaikan lewat buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan.

Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan merokok (hal. 109).

Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.

Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.

Lebih jauh, kelompok-kelompok yang didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau. Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan industri tembakau.

Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya.***

Indonesia Mengajar

 
Judul : Indonesia Mengajar
Penyunting : Ikhdah Henny dan Retno Widyatuti
Penerbit : Bentang
Tahun : November 2011
Tebal : xviii + 322 halaman
Harga : Rp. 54.000



Keharuan dan kekaguman. Itulah yang terasa jika pembaca menyimak kisah-kisah dalam buku ini. Bagaimana tidak, para guru muda yang ditempatkan untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia, telah menemukan berbagai pengalaman yang memberikan makna lain pendidikan.

Mereka tidak lagi bicara soal teori pedagogi ataupun jargon-jargon yang diungkapkan oleh otoritas terkait mengenai pendidikan. Sebaliknya, mereka melakukan sebuah tindakan konkret dalam dunia pendidikan. Inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh Indonesia pada saat ini.

Lewat program Indonesia Mengajar yang digagas oleh orang-orang yang ingin melakukan tindakan nyata untuk kemajuan Indonesia, para sarjana dari berbagai perguruan tinggi, diundang untuk menjadi guru di berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Rasanya, hanya “keterpanggilan” saja yang membawa para sarjana dari berbagai disiplin keilmuan itu mau berada di tempat-tempat jauh dari tempat berdiskusi para pemegang otoritas pendidikan. Mereka tidak sekadar mencari pengalaman apalagi uang, melainkan datang untuk berbuat sesuatu yang nyata bagi Ibu Pertiwi.

Sulit rasanya mengatakan bahwa mereka adalah sekelompok anak muda yang sekadar mengisi waktu sebelum bekerja di instansi tertentu. Sebab pada dasarnya anak-anak muda ini memiliki prestasi serta pencapaian di atas rata-rata. Jadi sesungguhnya tidak sulit bagi mereka untuk bekerja di lembaga atau instansi yang "menjanjikan".

Lalu, apa yang mereka dapatkan selama satu tahun berada tempat mereka ditugaskan? Apalagi kalau bukan sebuah pengalaman batin, pengalaman kemanusiaan dan pengalaman keindonesiaan.

Pengalaman-pengalaman itu sering kali bukan didapat dari peristiwa-peristiwa besar atau bernuansa heorik. Pengalaman semacam itu justru dari hal-hal sederhana, terutama dari hasil interaksi mereka dengan murid-murid dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Kisah mengenai “anak nakal” yang ternyata pandai dalam mata pelajaran matematika (hal. 55) misalnya, menunjukkan bahwa anak-anak yang dianggap sebagai “preman” di kelas, terkadang memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang lain.

Di sinilah tugas seorang pendidik sesungguhnya. Pendidik bukanlah memberikan label buruk pada si anak, justru harus menemukan cara agar kemampuannya dapat berkembang, sekaligus mengubah perilaku yang secara umum dianggap “mengganggu”.

Hal yang serupa juga terjadi dalam kisah Syahrul Si Asisten Guru (hal. 61) yang ditulis oleh Intan nuni wahyuni, Munarsih (hal. 64) yang ditulis oleh Bayu Adi Persada, Ibu Guru Laini (hal.69) yang ditulis oleh Junarih, maupun Semua Tentang Rizky (hal. 85) yang dikisahkan oleh Dwi Gelegar G Ramadhan.

Tidak semua pengalaman yang dikisahkan dalam buku indah. Kekesalan, tekanan, bahkan rasa hampir frustrasi juga dialami oleh para pendidik muda ini. Itu semua karena berhadapan dengan siswa dan lingkungan baru selalu memunculkan masalah. Tidak mulusnya proses adaptasi adalah salah satu sumbernya.

Hal ini memperlihatkan bahwa pendidik muda tersebut memiliki titik lemah. Itulah sisi kemanusiaan. Persoalannya, apakah meraka sanggup melewatinya? Perjalanan selama setahun membuktikan bahwa mereka sanggup. Ini membuktikan bahwa integritas dan mentalitas mereka sudah teruji.

Dari setiap pengalaman yang disampaikan oleh para guru yang terlibat dalam program ini, terlihat bahwa mendidik bukan sekadar mengajarkan materi-materi pelajaran yang telah digariskan dalm kurikulum, melainkan juga menjadikan murid menemukan dirinya sendiri.

Selain itu, hal yang lebih penting adalah, usaha untuk terus menumbuhkan optimisme kepada para murid. Di tengah fasilitas serta ketersediaan dana yang terkadang serba terbatas dan tidak mencukupi, guru harus menumbuhkan semangat dan optimisme kepada para murid untuk berbuat sesuatu bagi diri maupun masa depannya.

Buku ini seharusnya menjadi inspirasi bagi guru-guru di daerah lainnya. Mendidik bukan sekadar menabungkan ide atau gagasan secara sistematis, melainkan memberikan bekal kepada mereka untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.***

Aku Mendakwa Hamka Plagiat - Skandal Sastra Indonesia 1962-1964



Judul : Aku Mendakwa Hamka Plagiat - Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : Scripta Manent & Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2011
Tebal : 238 hlm









“Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” , demikian judul resensi-essei yang ditulis oleh Abdullah SP di harian Bintang Timur “Lentera” 7 September 1962. Sebuah judul yang provokatif di jaman yang memang sedang bergolak di tahun 60an. Resensi yang ditulis oleh Abdullah SP itu menjadi salah satu resensi yang melegenda selama bertahun-tahun dan nyaris mengambil separuh halaman “Lentera “ Bintang Timur saat itu. Tidak hanya itu saja, resensi itu juga menjadi penyulut munculnya dugaan plagiarisme Hamka dan menjadi skandal sastra terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia.
Siapa Hamka yang dimaksud Abdullah SP? Hamka adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru. Dalam resensi-essai nya itu Abdullah SP mengurai sekaligus membandingkan bagaimana novel best seller Hamka (dicetak sebanyak 80 rb eks) Tenggelamnya Kapal v.d Wijk (1938) memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel Magdalena yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous les Tilleuls
Resensi tersebut akhirnya memunculkan isu plagiarisme Hamka menjadi sebuah skandal sastra yang menjadi polemik hingga dua tahun lamanya (1962-1964). Kubu sastra Indonesia di saat itu terbelah menjadi dua, antara mereka yang mendukung pendapat Abdullah SP dan kubu yang membela Hamka yang dikomandoi oleh HB Jassin dan kawan-kawannya. Selain resensi tersebut salah satu sebab yang juga membuat isu ini menggulir menjadi sebuah skandal besar tentu saja peran harian Bintang Timur dalam lembar kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer yang dengan intens menyediakan kolom khusus berjudul “Varia Hamka” yang menampung semua pendapat pembaca untuk menanggapi isu ini.
Skandal plagiarisme Hamka yang terekam di lembar-lembar Bintang Timur/Lentera sudah sulit ditemukan, kalaupun masih ada mungkin sudah hampir lapuk dimakan usia dan tercecer di berbagai tempat. Skandal terbesar di dunia sastra ini hampir saja terkubur selama-selamanya dan hilang dari ingatan kita kalau saja buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 yang disusun oleh Muhidin M Dahlan, kerani Indonesia Buku ini terbit beberapa waktu yang lalu.
Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar2 Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini.
Secara terstrukur buku ini mencoba mengetengahkan kembali skandal plagiarisme Hamka ke hadapan pembacanya, dimulai dari sinopsis Tenggelamnya Kapal v.d Wijk, resensi-essei pertama dari Abdullah SP yang menyulut kehebohan dunia sastra di tahun 60an, kedudukan Hamka dalam peta sastra Indonesia, bukti-bukti plagiat Hamka, pendapat dan pembelaan HB Jassin terhadap Hamka, dan bab penutup yang mengaitkan isu plagiarisme Hamka dengan isu plagiarisme teraktual di dunia sastra Indonesia.
Dalam bahasan-bahasan di atas, hampir semuanya menarik untuk disimak, dalam buku ini terlihat jelas bagaimana isu yang dilemparkan Abdullah SP ini bukannya tanpa dasar atau sekedar asumsi kosong tanpa dasar, semua pendapat Abdullah SP disertai bukti-bukti dan perbandingan yang ketat dan ilmiah sehingga Abdullah SP kukuh pada pendiriannya bahwa Hamka adalah Plagiator!
Abdullah SP tidak hanya menurunkan resensi yang berbentuk narasi, melainkan juga menggunakan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang membandingkan dua roman itu dengan detail dalam beberapa bagian dalam bentuk tabel perbandingan. Yang menarik, di masa itu penggunaan metode ini baru pertama kalinya digunakan dalam sejarah Sastra Indonesia dalam mencari kemiripan antara novel Hamka dengan novel Al-Manfaluthi. Hal ini berarti dimulainya sebuah babak baru dalam sejarah sastra Indonesia.
Selain membeberkan analisa Abdullah SP dalam resensi-essai nya, buku ini juga mengutip pendapat para pembaca harian Bintang Timur/Lentera dalam kolom “Varia Hamka” yang memang disediakan oleh redaksinya untuk menampung semua pendapat pembaca dalam kasus Hamka termasuk tulisan-tulisan yang membela Hamka yang dibuat HB Jassin bersama teman-temannya.
Dalam salah satu pembelaannya HB Jassin mengusulkan agar novel Magdalena yang ditulis oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi dalam bahasa Arab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mendapat perbandingang yang obyektif. Sesuai dengan saran HB Jassin, novel tersebut akhirnya diterjemahkan oleh AS. Alatas dan diterbitkan dengan judul Magdalena (Dibawah Naungan Pohon Tilita) pd tahun 1963. Sebenarnya setahun sebelumnya Magdalena diterjemahkan oleh A.S. Alatas , novel tersebut telah diterjemahkan oleh A.S. Patmaji dan dimuat secara bersambung di Bintang Timur. Bagian dari kedua versi terjemahannya ini (Jusuf Hamzah vs A.S alatas) juga disandingkan dalam buku ini.
Dengan diterbitkannya terjemahan Magdalena oleh AS. Alatas, HB Jassin menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pembelaannya yang dimuat dalam kata pengantarnya sebagai berikut :
Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis2 persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri.... Maka adalah terelalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di senen (hal 147)
Menanggapi pendapat HB Jassin ini Abdullah SP dan kawan-kawannya menyebutkan bahwa itu semua adalah dalih yang dibuat-buat dan seluruh persyaratan definisi palgiarisme yang dikemukakan HB Jassin sendiri terungkap dalam karya Hamka. Lalu bagaimana pendapat Hamka sendiri? buku ini mengungkap bahwa Hamka bergeming dan memilih bungkam.
Singkatnya buku ini mencoba membeberkan beberapa point penting dari artikel-artikel yang pernah dimuat di harian Bintang Timur terkait kasus plagiarisme Hamka selama kurang lebih. Hal menarik yang terungkap dalam buku ini adalah sebuah fakta bahwa sebenarnya Bintang Timur telah menutup kasus Hamka ini tiga bulan setelah serangan bertubi-tubi yang ditujukan pada Hamka tepatnya pada 19 November 1962.
Dalam surat resmi redaksi Bintang Timur yang dimuat pada tgl 19 November 1962 itu terungkap bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera/Bintang Timur. Namun kenyataannya kehebohan kasus Hamka ini tidak berhenti begitu saja melainkan terus membesar. Kasus plagiarisme Hamka ini baru benar-benar lenyap saat badai taufan G30 S ikut mengenggelamkan kehebohan dan skandal sastra di atas kapal Van der Wijk dan kapal Bintang Timur pada tahun 1965.
Satu hal yang membuat saya masih penasaran dengan buku ini adalah siapa sebenarnya Abdullah SP si pemicu isu plagiarisme Hamka, buku ini tak menjelaskan siapa sebenarnya Abdullah SP selain keterangan bahwa beliau adalah penulis kelahiran Cirebon (1924) dan mulai menulis sejak revolusi di majalah Republik – Cirebon.
Jika melihat metode perbandingan dan tulisan-tulisan Abdullah SP dalam buku ini sepertinya beliau bukan orang 'sembarangan'. Ada yang menduga bahwa Abdullah SP adalah nama samaran Pramoedya AT. Sayang buku ini tak mengungkap siapa sebenarnya Abdullah SP, apakah memang penulis tak mengetahuinya atau memang sengaja untuk tidak diungkapkan? Tak ada keterangan sedikitpun akan hal ini dari penulisnya
Sebagai sebuah buku yang mengkronik kasus skandal sastra plagiarisme Hamka buku ini sangat bermanfaat bagi generasi kini yang mungkin sudah tak pernah mendengar lagi kasus ini. Sebelum buku ini terbit, hanya ada satu buku terkait yang ditulis oleh Junus Amir Hamzah dan HB Jasin berjudul Van der Wijk dalam Polemik terbitan Mega Book, Jakarta 1963. Sebenarnya Pramoedya AT dan Lentera saat itu juga sedang mempersiapkan naskah berjudul Hamka Plagiat , sayangnya naskah tersebut tak sempat diterbitkan menyusul tragedi G 30 S.
Dilihat dari karakteristik pembahasan buku ini bisa dikatakan buku ini menjiwai ‘roh’ dari apa yang pernah disusun oleh Pramoedya. Muhiddin M Dahlan dalam kata pengantarnya menulis demikian
Buku yang di tangan pembaca ini, boleh jadi menjadi pengantar untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965 dan diantara mereka di-Buru-kan. (hal 12)

Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan
Buku ini dengan gagahnya ditutup dengan bab Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan yang mengungkap kasus-kasus plagiarisme di dunia sastra terbaru. Dalam bab ini dibahas kasus-kasus plagiarisme terkini dengan bahasan yang detail seperti kasus cerpen Perempuan Tua dalam Rasmohon karya Dadang Ari Murtono, kasus puisi Kerendahan Hati Taufik Ismail yang diduga sebagai karya jiplakan dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch, hingga kasus plagiarisme terkini yang menimpa Seno Gumiro Ajidarma dalam cerpen “Dodolit Dodolibret” sebagai pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2011 yang mirip dengan cerpen Tiga Pertapa karya Leo Tolstoy
Dari bab terakhir buku ini akan terlihat bahwa kasus plagiarism dalam sejarah sastra Indonesia tak ada yang sebegitu heboh dan seserius kasus plagiarisme Hamka. Kini kasus-kasus plagiarisme hanyalah heboh sesaat untuk selanjutnya mereda dengan cepat. Tak ada kelanjutan dan luruh dengan sendirinya.
Akhir kata belajar dari apa yang terekam dalam buku ini seperti kasus Hamka kasus plagiarisme sastra Indonesia tak pernah tuntas, hanya menimbulkan kegeraman dan polemik sesaat sebelum terkubur dan terlupakan dalam sejarah sastra kita.
Dari kasus demi kasus yang terjadi nyaris tak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hukuman bagi orang yang disangkakan plagiator di bidang sastra nyaris tidak ada. Hingga kini tak ada kesepakatan yang jelas dari para sastrawan kita apa yang menjadi tolok ukur sebuah karya sastra masuk dalam kategori plagiat atau tidak. Orang yang pernah diisukan sebagai plagiator seperti Hamka, Chairil Anwar, atau sastrawan-sastrawan lainnya tetap bisa berkarya dan menjadi tokoh sastra yang disegani.
“Jangan-jangan soal plagiat, hanya penulis karya dan Tuhan yang tahu. Dan para pencurinya tetap pada kehormatannya. “ (hal 229)

Djokolelono



Masih ingat dengan Djokolelono? Beliau adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi jaman ketika novel itu dibuat. Novel tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1976, setahun sebelum George Lucas merilis Star Wars yang kelak menjadi sebuah fenomena budaya dalam sejarah dunia fiksi ilmiah.
Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono membuat sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976) lalu dilanjutkan dengan menulis novel berseri Penjelajah Antariksa (3 judul, Gramedia 1985-1986). Selain menulis novel fiksi-ilmiah Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, salah satunya adalah seri Astrid (Gramedia, 1980-an), selain itu juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku fiksi seperti Petualangan Tom Sawyer, seri cergam Mimin, Mallory Towers, buku2 Enid Blyton, dll. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia


Pria yang memiliki nama lengkap Stefanus Djoko Lelono ini biasa disapa dengan sebutan Guk Djoko. Beliau lahir di Sidoarjo pada tahun 1959 dari Ibu Amah (seorang atlet) Sidoarjo dan Bapak Wiryanto (seorang seniman sekaligus pemain panggung) Solo. Saat tinggal di Bali jiwa Guk Djoko Lelono mulai tersentuh oleh budaya dan berkesenian. Dari asuhan sang ayahlah beliau mulai mengenal dunia melukis. Kecintaannya akan seni lukis ini diperdalam dengan belajar melukis pada Bapak Afandi dan pernah studi melukis di Yogyakarta. Secara spiritual-kerohanian, pria yang juga gemar menulis ini pernah dibimbing oleh Rm. Dick Hartoko, SJ, Rm. Y. B. Mangunwijaya, Pr (alm.), dan Rm. Sindunata, SJ di Paroki Pakem-Kaliurang, Yogyakarta. Dan pada tahun 2005 pernah menjadi dosen tamu di STFT Widya Sasana Malang untuk mata kuliah Kristologi Budaya.
Konsep-konsep karya yang diangkat adalah segi sosial dari gambaran masyarakat ‘kecil’ yang termaginalisasikan dan kecintaan terhadap lingkungan hidup. – anak-anak desa.
aliran karya Naturalis namun bayak yg meyebut karya expresionis karna bayak karyanya 2 hanting lokasi


Berikut ini sebagian dari karya Djokolelono:
Karya awal
  • Genderang Perang Dari Wamena, Pustaka Jaya 1970
  • Terlontar ke Masa Silam, Pustaka Jaya 1971
  • Getaran, Pustaka Jaya 1972
  • Putri Indraswari, Pustaka Jaya, 1973
  • Lawa dan Kusya, Pustaka Jaya 1976
  • Hancurnya Jembatan Beru, Pustaka Jaya 1977
  • Sesaji Raja Surya, 1977