Kisah 47 Ronin



Judul : Kisah 47 Ronin (The 47 Ronin Story)
Pengarang : John Allyn (c) 1970
Penerjemah : Theresa Dewi
Penerbit : Penerbit Matahati, Maret 2007
Tebal : 311 halaman; 19 xz 12,5 cm



Kisah tentang 47 Ronin yang menjadi salah satu kisah legendaris dalam sejarah Jepang. Kisah pembalasan dendam yang sangat terkenal, tentang kesetiaan para samurai pada daimyo mereka.

Lord Asano, seorang daimyo muda dari Ako, menyerang Kira, pejabat istana, pemimpin upacara Shogun Tsunayoshi. Kira seorang yang korup, sering meminta uang suap dari para daimyo, tapi Lord Asano seorang yang sangat idealis, tak mau memenuhi permintaan Kira. Hal ini membuat Kira kesal, dan puncaknya pada suatu hari di istana Shogun di Edo, Kira mengatakan sesuatu yang membuat Lord Asano sangat marah, dan mengeluarkan pedangnya, sesuatu yang sangat tabu dilakukan di dalam istana Shogun.

Akibatnya, Kira tergeletak tak berdaya, Lord Asano ditangkap, dan dihukum mati. Seluruh wilayah kekuasaannya disita, dan keluarganya diasingkan. Karena kematian tuannya, para samurai dibawah naungan Lord Asano kehilangan status mereka sebagai samurai. Kini mereka menjadi Ronin, samurai tanpa tuan. Sebuah posisi yang sangat memalukan bagi para samurai.

Oishi, pemimpin para samurai Lord Asano, tak bisa menerima keputusan Shogun. Apalagi setelah mendengar bahwa Kira selamat dari serangan Lord Asano. Oishi pun menyusun siasat pembalasan dendam. Taktik yang sulit, karena dia juga menghadapi resiko ditinggalkan anak buahnya, dan dianggap pengecut.

Seperti dicatat dalam sejarah Jepang, ke-47 Ronin dibawah pimpinan Oishi tersebut akhirnya berhasil membalaskan dendam tuan mereka.

Walau dibilang merupakan salah satu cerita paling legendaris, terus terang saja, aku baru kali ini kog membaca tentang kisah 47 Ronin ini. (Tapi setelah baca, aku memang nanya oom google, hehehehe, dan memang dari beberapa website yang dibuka, cerita itu hampir sama).

Yang menarik di sini adalah cerita tentang siasat yang dibuat oleh Oishi untuk membalaskan dendam pada Kira. Betapa dia dengan teliti mengatur keuangan, menempatkan putri Lord Asano di istana Kaisar, dan juga berbulan-bulan dengan sabar menahan diri dan berpura-pura menjadi mantan samurai yang putus asa, berusaha mengelabui mata-mata yang dikirim oleh Kira. Seru...!!!!

Selengkapnya.....

The Bartimaeus Trilogy - The Amulet of Samarkand

Judul : The Bartimaeus Trilogy - The Amulet of Samarkand
Pengarang : Jonathan Stroud (2003)
Penerjemah : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Mei 2007
Tebal : 512 halaman; 20 x 13,5 cm

Di London, seorang anak lelaki berusia 12 tahun mengadakan ritual pemanggilan demon, suatu hal yang tak lazim mampu dilakukan anak seumurnya. Yang dipanggilnya pun bukan demon kelas rendah, tapi Jin Bartimaeus, jenis demon yang punya kekuatan yang tak bisa dianggap remeh. Bartimaeus adalah jin yang punya reputasi cukup mengagumkan.

Itulah sebabnya, Bartimaeus cukup terkejut melihat penyihir yang memanggilnya, dan mengikatnya dengan mantra pengikat yang cukup rumit. Apalagi mendengar perintah yang harus dilaksanakannya, mencuri Amulet Samarkand dari Simon Lovelace, seorang penyihir terkemuka, sama sekali bukan tandingan anak kecil itu.

Begitupun, terikat dengan mantra itu, Bartimaeus melaksanakan perintah itu, dan berhasil, walaupun harus melalui rintangan yang sulit.

Pencurian amulet itu menyeret Nathaniel, si penyihir kecil, ke serangkaian peristiwa mengerikan yang tak pernah terbayangkan olehnya. Pembunuhan, kebakaran, dikejar-kejar sebagai buronan, semua terjadi hanya dalam waktu seminggu, sejak dia memanggil Bartimaeus.

Dan tak itu saja, ternyata sebuah konspirasi jahat sedang berlangsung. Nathaniel, dengan bantuan Bartimaeus, harus berjuang untuk menyelamatkan Inggris dari nafsu jahat untuk berkuasa sekelompok penyihir tamak.

Akhirnya terbit juga deh terjemahan buku ini. Sebenarnya aku dah kepengen beli sejak lama, cuma... karena harganya, hem hem.. lumayan mahal, jadi ditunda-tunda terus, apalagi pas dengar bakal diterbitkan terjemahannya, maka kuputuskan untuk menunggu saja.

Ceritanya lucu. Bartimaeus itu kocak banget, sombong tapi memang hebat sih dia. Nathaniel sendiri bukan tokoh anak baik-baik. Dia itu bandel juga, dan punya kesombongan yang hampir sama sebenarnya dengan Bartimaeus. Memang Nathaniel itu pintar sekali, dia juga suka membaca, dan cepat menangkap pelajaran sihir. Aku geli banget bacanya, terutama kalau di bagian Bartimeus yang menjadi narator, pakai catatan kaki segala, yang isinya, aduh, benar-benar lucu.

Tokoh Nathaniel, terus terang mengingatkan aku pada tokoh Artemis Fowl, si anak jenius yang berhasil menculik Peri (ups, jadi nge-cek ke site nya Artemis Fowl, dan... wow.. mau ada Graphic Novel-nya, weks weks weks... mauuu!!!!!). Oke, cukup dulu ngelanturnya.

Salah satu bagian favoritku adalah sewaktu Bartimaeus menangkap pembawa pesan Simon Lovelace, dan si imp pembawa pesan itu memohon-mohon dengan sangat, sampai mengeluarkan segala bentuk pujian kepada Bartimaeus agar dikasihani, lucu banget...!!

Tokoh Nathaniel, terus terang mengingatkan aku pada tokoh Artemis Fowl, si anak jenius yang berhasil menculik Peri (ups, jadi nge-cek ke site nya Artemis Fowl, dan... wow.. mau ada Graphic Novel-nya, weks weks weks... mauuu!!!!!). Oke, cukup dulu ngelanturnya. Sekarang kembali ke London dan Nathaniel.

Buku ini adalah buku pertama dari seri trilogi si jin sombong Bartimaeus. Buku keduanya berjudul Golemn's Eye dan buku ketiga berjudl Ptolemy's Gate. Trilogi ini sendiri mendapat banyak penghargaan, dan untuk buku pertama ini adalah : 2004 ALA Notable Book, 2004 Best Books for Young Adults Top Ten Pick, Bank Street 2004 Best Book of the Year, Booklist Top 10 Fantasy Book for Youth 2004.

Selengkapnya.....

Nayla



Pengarang : Djenar Maesa Ayu



Djenar Maesa Ayu selalu menjadi sosok yang dipuja dan dihujat karena kontroversi dan keberaniannya membahas masalah "selangkangan" dan seks dalam cerpen-cerpennya.
Buat penggemar Djenar, novel "Nayla" ini jelas layak dibaca. Jangan dengar apa kata orang tentang segala komentar "pakar" atau apalah namanya yang menganggap diri mereka lebih baik, dan menganggap tulisan Djenar hanya membahas seks. Please deh... hari gini masih kayak gitu? :p
IMHO, dan saya juga tidak pernah bisa mengerti orang-orang yang menganggap Djenar tidak pantas dan tidak layak disebut pengarang sastra. Sampai kapan sih seorang Djenar harus membuktikan dirinya?
Novel "Nayla" ini termasuk salah satu novel yang saya tunggu-tunggu kehadirannya, sehingga wajar kalau saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap novel ini.
Walaupun ditulis dengan bahasa yang sederhana dan tidak se-surealis cerpen-cerpennya, "Nayla" memiliki sejumlah kekurangan di sana-sini.

Sebagai salah satu orang yang menganggap Djenar sebagai seorang penulis berbakat, sejujurnya saya merasa agak kecewa dengan novel ini. Bukan karena dia penulis yang buruk, tapi karena dia bisa menulis lebih baik daripada ini. Jika cerpen-cerpennya kadang-kadang membuat saya terpana dan kehilangan kata-kata seusai membacanya, tidak demikian dengan novel ini. "Nayla" tidak memberikan saya ruang untuk mengagumi kepiawaian sang pengarang yang biasanya membuat saya terkagum-kagum.

Membaca "Nayla" seperti membaca jalan hidup seorang Djenar. Sama seperti Djenar, sang tokoh yang bernama Nayla ini memiliki orangtua seniman dan menjadi cerpenis yang karya-karyanya dianggap "berani". Sulit bagi saya untuk tidak membandingkan Nayla dan Djenar. Entahlah. Itu mungkin cuma perasaan saya saja.

Dalam cerpen-cerpennya, Djenar biasanya mampu menggodok luka dalam ruang imajinasinya hingga menjadikan karya yang luar biasa tajam. Sementara dalam "Nayla", saya merasa Djenar hanya melempar tulisannya mentah-mentah---tapi, untunglah saya penggemar sushi---sehingga dalam sejumlah bagian saya bisa menikmati novel ini. Ada sejumlah bagian yang membuat saya miris dan mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Seno Gumira. Yang paling saya sukai dari novel ini adalah bagian di Cerita Pendek berjudul "Laki-laki Binatang" di halaman 38-42. Saya jadi teringat kembali dengan kekuatan cerpen Djenar.

Membaca "Nayla" berarti ikut larut dalam kepedihan dan ketidakbahagiaan sang tokoh, seperti merasakan tusukan peniti yang jadi sampul buku ini. Walaupun saya hanya bisa memberi nilai 7 untuk novel ini, saya tidak kapok dengan debut novel Djenar Maesa Ayu karena saya yakin di masa yang akan datang dia bisa menulis lebih baik lagi.

Di awal buku, ada kutipan dari Budi Darma, "tidak ada seorang pun yang memilih untuk tidak bahagia." Tapi entah bagaimana saya merasa Nayla (atau mungkin Djenar) memilih untuk menghindari kebahagiaan. Tapi jika dia bahagia, mungkinkah akan ada novel seperti ini?

Selengkapnya.....

Memoar Hadrianus


Judul : Memoar Hadrianus (Memoires d'Hadrien)
Pengarang : Marguerite Yourcenar (1958)
Penerjemah : Apsanti Djokosujatno
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia (Januari 2007)
Tebal : xii + 385 halaman; 20 x 13,5 cm


Hadrianus adalah kaisar Romawi, yang memerintah di abad kedua (117-138). Dilahirkan di Italica, di wilayah Spanyol, mempunyai hubungan kekerabatan dengan Trayanus, Kaisar Romawi sebelumnya, yang membawanya ke tampuk pemerintahan kekaisaran Romawi.

Buku ini membawa kita mengenal siapa Hadrianus, yang terus terang saja, bagiku pribadi sih, sebuah nama yang sebelum ini tak pernah kudengar. Dia tak setenar Julius Caesar, Kaisar Agustus ataupun Nero. Hadrianus, memang tak melakukan tindakan-tindakan ekstrim sebagaimana kebanyakan para kaisar-kaisar Romawi dikenal.

Berbagai cerita sepanjang kehidupannya kita temukan di sini. Pandangan-pandangan Hadrianus terhadap berbagai kepercayaan, juga kebiasaan-kebiasaan di masa itu. Kisah cintanya dengan Antinoos, seorang pemuda Yunani. Trik-trik politik. Strategi-strategi militer. Pembangunan kota-kota di berbagai wilayah kekaisaran. Juga kesukaan Hadrianus tinggal di Yunani, tempat asal kekasihnya.

Kisah cintanya sendiri dengan Antinoos berakhir menyedihkan. Antinoos, meninggal di usia yang masih sangat muda, duapuluh tahun, tenggelam di sungai, menyerahkan dirinya sendiri sebagai persembahan, yang dipercayanya akan memperpanjang umur Hadrianus yang sangat dicintainya. Kematian Antinoos membuat Hadrianus sangat sedih. Untuk mengenang kekasihnya itu, Hadrianus bahkan membangun sebuah kota yang dinamai seperti sang kekasih, Antinopolis. Selain itu, dia juga memerintahkan membuat berbagai patung Antinoos, patung-patung yang sampai sekarang masih dapat kita temukan di berbagai museum.

Terus terang saja, baca buku ini, bagiku agak sedikit sulit. Bukan buku yang bisa dengan gampang di'kunyah'. Tapi kisah hidup Hadrianus, yang disampaikan Marguerite Yourcernar dengan sudut pandang Hadrianus sendiri. Buku ini disajikan sebagai sebuah surat yang ditulis oleh Hadrianus kepada Marcus Aurelius, calon penerusnya. Surat yang ditulisnya di akhir hidupnya, saat penyakit sudah menggerogoti tubuhnya.

Begitu pun, dengan segala kesulitan, eksotisme kehidupan sang kaisar, membuatku tak sanggup menahan diri untuk terus membacanya.

Kisah sejarah yang sangat memukau. Tak sia-sia dua puluh empat tahun dihabiskan Yourcernar untuk menyelesaikan novel ini, yang membawanya menjadi anggota wanita pertama dari Academie Francaise yang bergengsi.

Selengkapnya.....

Laskar Pelangi & Rumah Pelangi

Perhatikan dua buku di bawah ini:
















Gambar di atas adalah sampul depannya, sedangkan yang dibawah ini adalah sampul belakangnya:
















Bisakah anda lihat perbedaannya? Jika masih belum bisa membedakan, silakan klik masing-masing gambar untuk memperbesar dan lihat perbedaannya.

Gambar yang sebelah kiri adalah Buku dengan judul Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Laskar Pelangi adalah buku yang memiliki penjualan terbaik di Indonesia. Sedangkan yang sebelah kanan? Yang sebelah kanan adalah buku berjudul Rumah Pelangi karangan Samsikin Abu Daldiri.

Buku Laskar Pelangi diterbitkan oleh Klub Sastra bentang, sedangkan buku Rumah Pelangi diterbitkan oleh ARTI.


Entah kenapa ketika saya melihat cover dan judul buku Rumah Pelangi, saya langsung teringat Laskar Pelangi. Pewarnaan dan pemilihan huruf sampul depan Rumah Pelangi (serta judulnya) seperti mengikuti sampul depan Laskar Pelangi. Apakah ini hanya perasaan saya saja? Anda yang telah melihat foto-foto diatas tentunya bisa menyimpulkan sendiri ).

Bagaimana review buku berjudul Rumah Pelangi? entahlah, saya sendiri belum membacanya, apalagi membelinya D.

Entah apa maksud si penerbit Rumah Pelangi memilih cover yang sangat-sangat mirip dengan Laskar Pelangi. Mungkin berharap agar bisa mendulang kesuksesan yang sama seperti Laskar Pelangi ))

Mudah-mudahan saja ini bukan cara Penerbit ARTI untuk “mengelabui” para pembeli/pembaca agar sulit membedakan antara Rumah Pelangi dan Laskar Pelangi.

Kalau seperti ini bisa dianggap melanggar hak cipta gak ya?

Selengkapnya.....
 
Free new blogger template ABSTRACT MIND Design by Pannasmontata             Powered by    Blogger