
Judul : Winter Dreams - Perjalanan Semusim Ilusi
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2011
Tebal : 287 hlm
Bagi sebagian penduduk dunia, Amerika adalah negeri impian untuk mencapai kesuksesan, ada banyak caranya, mulai dari yang menempuh pendidikan lanjutan lalu meniti karier disana atau hanya dengan modal pendidikan dan uang seadanya nekad mengadu nasib dan menjadi bagian dari 12 juta masyarakat intenasional yang memilih menjadi imigran gelap di Amerika dengan segala resikonya demi sebuah mimpi.
Beda
halnya dengan Nicky F. Rompa pemuda Indonesia berusia 20-an tahun.
Berawal dari perceraian kedua orang tuanya ia lari dari kenyataan pahit
yang dialaminya dengan mencoba mengadu nasib sebagai imigran gelap di
Amerika Serikat. Kehidupan Nicky di negeri asing Inilah yang menjadi
inti kisah dari novel Winter Dreams karya Maggie Tiojakin yang sebagian besar kisahnya mengambil setting di Boston, Mass. Amerika Serikat.
Dikisahkan
Paska perceraian kedua orang tuanya Nicky tinggal di Jakarta bersama
ayahnya, sedangkan adik perempuannya tinggal bersama ibunya di tempat
lain. Ayah Nicky adalah seorang pemarah yang ringan tangan.
Lambat
laun Nicky tak tahan dengan perlakuan ayahnya yang kasar dan suka
memukuli dirinya hingga babak belur, akhirnya ketika ibunya menawarkan
agar Nikcy meninggalkan ayahnya dan pergi ke Amerika ia menerima tawaran
itu. Nicky berangkat meninggalkan keluarga dan sahabatnya tanta tahu
berapa lama dan apa yang harus ia kerjakan disana kelak.
Di
sana awalnya Nicky tinggal bersama keluarga kerabat ibunya yang telah
lama menetap disana. Sebuah peristiwa membuat ia harus meninggalkan
mereka dan mencari tempat tinggal sendiri. Di Boston Nicky mencoba mengisi kehidupannya dengan berbagai pekerjaan mulai dari pegawai toko, supir limousine, ikut kursus menulis, hingga bekerja di sebuah koran lokal. Di
novel setebal 287 halaman inilah pembaca diajak mengikuti perjalanan
Nicky dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Dari satu pertemanan
ke pertemanan lainnya.
Dari perjalanan hidupnya ini Nicky bertemu dengan orang-orang yang berasal dari berbagai kultur yang berbeda, mulai dari Mr.
& Mrs. Wong, imigran asal Vietnam yang menjadi majikan Nicky saat
ia bekerja supermaket. Polina, gadis Rusia dimana Nicky pernah tertarik
padanya. Sepasang kekasih Dev Akhtar dari Pakistan dan Natalie Black,
gadis Yahudi, yang keduanya tinggal seapartemen dengan Nicky , Artin Rucci, guru menulis Nicky, Esmeralda de Luca Garcia – Esme – kekasih Nicky yang berasal dari Meksiko. dll
Dari
seluruh kisah yang dialami Nicky walau ada berbagai peristiwa dan
konflik yang dialami Nicky dengan orang-orang yang ditemuinya namun tak
ada konflik yang menonjol dalam novel
ini, tak ada dramatisasi yang berlebihan dalam kehidupan Nicky. Apa
yang dialami Nicky begitu alami dan mungkin pernah dialami oleh kita
semua seperti jatuh cinta pada seorang gadis, tertarik pada kekasih sahabat, patah hati, mencoba berganti-ganti pekerjaan, pesta-pesta anak muda, melakukan perjalanan antar kota, dsb.
Karakter
Nicky F Rompa sendiri bukanlah sebuah tokoh hero yang sempurna, namun
disinilah justru karakter dan pengalaman hidup Nicky berpotensi
mengundang simpati dari para pembacanya, ia mewakili tokoh pemuda yang
galau, kesepian, dan bingung menentukan tujuan dan pilihan hidupnya
hingga akhirnya pada satu titik dalam kehidupannya ia menyatakan bahwa
kehidupan dirinya mengalir begitu saja seperti yang terungkap dalam
sebuah dialog dengan salah seorang temannya.
Aku bisa tinggal di sini seperti sekarang dan tidak melakukan apa-apa, just going with the flow;
atau aku bisa tinggal di sini dan melakukan sesuatu yang berarti
bagiku. Atau aku bisa pulang dan berusaha untuk memecahkan teka-teki
abadi: apa yang akan kulakukan dengan hidupku? Semua orang ingin menjadi
seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan,
entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi
apa-apa.” (hal 231)
Nicky juga
tidak digambarkan sebagai manusia suci, walau tak terseret dalam dunia
narkoba seperti yang dialami oleh sepupunya namun ia menjalani kehidupan
cintanya layaknya masyarakat urban di sebuah kota Metropolitan.
Status Nicky sebagai imigran gelap juga memberi warna tersendiri, melalui novel ini pembaca akan diajak melihat kendala-kendala seorang
imigran gelap dalam memperoleh pekerjaan karena tidak semua orang mau
mempekerjakan imigra gelap sebagai pegawainya. Peristiwa 11 September
2001 membuat pandangan masyarakat dan pemerintah AS terhadap para
imigran gelap semakin sinis sehingga memunculkan istilah ‘ilegal allien’
bagi mereka, seakan meraka adalah mahluk asing yang harus diusir dari
negeri Amerika.
Selain pembaca diajak
menyelami kehidupan Nicky melalui novel ini pembaca juga akan diajak
melihat kehidupan dan budaya multikultural masyarakat Amerika melalui
tokoh-tokoh yang dijumpai Nicky di sana sehingga wajah amerika sebagai
negara multikultural akan terdeskripsikan dengan baik.
Dari
percakapan Nicky dengan tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan
kehidupannya itu akan muncul dialog-dialog soal cinta, persahabatan,
kepenulisan, dll yang tidak terkesan mendikte pembacanya melainkan
memberi kebebasan pada pembacanya untuk menyimpulkan sendiri apa makna
dari semua dialog itu.
Sepeti yang
diungkap di atas, walau kisah kehidupan Nicky dalam novel ini nyaris
tanpa konflik yang mencuat, namun ini bukanlah novel yang membosankan
karena dengan kalimat-kalimat yang mengalir pembaca dibuat betah dan
penasaran untuk menyimak perjalanan hidup Nicky hingga lembar terakhir
novel ini. Selain itu karakter Nicky dan tokoh-tokoh lain yang
digambarkan apa adanya membuat kisah dalam novel ini terasa dekat dengan
keseharian dan realita yang kita hadapi
Dan
yang membuat novel ini semakin menarik adalah bagaimana penulis mampu
menghidupkan suasana kota Boston dengan begitu hidup. Pegalaman penulis
yang pernah tinggal 6 tahun di Boston membuat ia mendeskripsikan
makanan, jalanan, setting, dan perilaku masyarakat Boston terkisahkan
dengan detail dan filmis sehingga pembaca seolah melihat secara langsung
apa yang dilihat dan dilakukan oleh Nicky.
Selain
itu karakter Nicky yang dihidupkan dalam novel ini juga seolah mewakili
perasaan para remaja/pemuda kita yang umumnya mengalami kebingungan
dalam hidupnya seperti yang diungkap penulisnya dalam live tweet –nya di
#Twtiteriak beberapa waktu yang lalu.
Dalam live-tweetnya penulis mengungkapkan sebuah kenyataan yang dirasakan oleh para pemuda tentang tujuan hidup mereka. Walau umumnya para pemuda di usia 20-an mengatakan telah memiliki tujuan hidup namun kenyataannya mereka
hanya memproyeksikan hal tersebut dalam lingkup sosial, di mana mereka
selalu berusaha menunjukkan ‘ilusi hidup’ yang terarah sementara saat
mereka sendiri, kebingungan yang sama seperti yang Nicky rasakan juga
mencekam pikiran mereka. Inilah yang dinamakan quarter-life crisis yang dalam novel ini dialami oleh Nicky.
Dengan tuturan kalimat sederhana yang enak dibaca, kaya akan detail, karakter tokoh
utama yang mengundang simpati pembacanya dan tokoh-tokoh lainnya yang
penuh warna, serta tema yang universal, tak mengherankan kalau novel
yang dikerjakan selama hampir 6 tahun ini sudah dilirik oleh 2 penerbit asing. Satu dari Amerika, dan satu lagi dari Australia.
Saat
ini pengalih bahasaan dan beberapa penyesuaian untuk konsumsi pembaca
luar sedang dikerjakan oleh penulisnya. Jika jadi diterbitkan maka satu
lagi penulis Indonesia memasuki kancah literasi Internasional dan hal
ini tentunya membanggakan sekaligus menjadi pemacu kreatifitas bagi
penulis-penulis kita lainnya untuk go international.













